KALIMANTAN TIMUR — Insiden itu diunggah Departemen Kepolisian Parker dalam sebuah video pekan ini. Pengemudi yang ketahuan ngebut itu meminta petugas memanggil supervisor, sambil berdalih bahwa dirinya tidak mengemudikan mobil karena fitur "auto assist" sedang aktif. Polisi menolak dalih tersebut. "Teknologi bantuan pengemudi tidak menggantikan pengemudi," tulis departemen itu dalam pernyataannya. "Baik kendaraan Anda punya adaptive cruise control, lane centering, atau full self-driving, Anda tetap bertanggung jawab secara hukum untuk mengoperasikan kendaraan dengan aman."
Nama "Full Self-Driving" vs Tanggung Jawab Hukum Level 2
Secara hukum, semua sistem bantuan mengemudi yang dijual saat ini adalah Level 2. Artinya, manusia tetap pengemudi utuh, dan perangkat lunak hanya membantu. Sistem FSD milik Tesla, yang kini bernama resmi "Full Self-Driving (Supervised)", juga masuk kategori Level 2. Nama produknya memang terdengar seperti mobil bisa menyetir sendiri, tetapi aturan dan tulisan kecil di buku manual berkata lain.Masalahnya, Tesla ingin memetik keuntungan dari nama besar itu tanpa mau memikul risikonya. CEO Tesla, Elon Musk, selama satu dekade terus meyakinkan publik bahwa mobilnya bisa menyetir sendiri. Bahkan di akhir tahun lalu, ia mengklaim pengguna FSD bisa bermain ponsel sambil berkendara. Namun begitu terjadi masalah, posisinya berubah 180 derajat. Sistem tiba-tiba dianggap hanya "supervised", pengemudi selalu salah, dan buku manual selalu menyarankan tangan tetap di setir.
Bukan Glitch: Tesla Justru Membuang Fitur Pembatas Kecepatan
Yang lebih menyebalkan, pelanggaran batas kecepatan ini bukanlah bug. Ini adalah desain. Pada FSD versi terbaru, Tesla menghapus fitur speed offset yang dulu bisa dipakai pemilik untuk membatasi kelebihan kecepatan. Sebagai gantinya, tersedia mode "Sloth", "Chill", "Standard", "Hurry", dan "Mad Max". Jurnalis dari Electrek yang menguji FSD v14 mengaku kena tilang karena mobilnya melaju 78 km/jam di jalan dengan batas 50 km/jam, padahal mode yang dipilih adalah "Standard" yang seharusnya lebih kalem.Pemilik kendaraan Tesla sudah lama meminta fitur batas kecepatan maksimal yang bisa diatur manual. Permintaan itu ditolak mentah-mentah. Kepala divisi AI Tesla, Ashok Elluswamy, menyebut pengaturan batas kecepatan oleh pengguna sebagai "anti-pattern". Ia lebih suka membuat FSD "lebih pintar" daripada menuruti keinginan pemilik untuk mengontrol laju kendaraan. Ironisnya, mobil yang katanya akan makin pintar itu masih punya mode "Mad Max" yang sengaja melampaui batas, sementara mode "Standard" saja tidak bisa dipercaya untuk tetap di bawah limit.
Regulator Eropa Sudah Bereaksi, Pengemudi Tetap Kena Tilang
Swedia sudah melayangkan protes ke Uni Eropa agar sertifikasi FSD ditolak selama perilaku ngebut ini masih ada. Jarak antara produk bernama "Full Self-Driving" dan kenyataan mobil yang sadar melanggar batas kecepatan memang terlalu jauh.Perlu ditegaskan, dalih pengemudi di Parker itu tetap tidak bisa dibenarkan. Jika mobil melaju kencang, pengemudinya yang melanggar. Polisi tidak akan menilang langganan software. Saat jurnalis Electrek kena tilang bulan lalu, ia juga tidak menyebut-nyebut FSD kepada polisi dan langsung menerima surat tilang.
Tetapi, berhenti pada menyalahkan pengemudi saja rasanya tidak adil. Tesla sengaja membangun kebingungan ini dan diuntungkan olehnya. Anda tidak bisa menamai sistem Level 2 dengan sebutan "Full Self-Driving", membiarkan pengguna berkirim pesan saat berkendara, merancang mobil agar melampaui batas kecepatan, lalu bersembunyi di balik kalimat "pengemudi tetap bertanggung jawab" saat radar polisi berbunyi. Solusinya sederhana: kembalikan fitur batas kecepatan keras yang bisa diatur pemilik. Tesla menolaknya dan menyebut kontrol pengemudi sebagai "anti-pattern". Itu sama saja dengan perusahaan yang mengaku lebih tahu daripada pengemudinya sendiri.