KUTAI KARTANEGARA — Pergerakan tanah di ruas jalan vital penghubung Tenggarong dan Samarinda tidak hanya mengancam infrastruktur, tetapi juga permukiman warga. Satu unit rumah di Dusun Margasari, Desa Jembayan, dilaporkan hanyut terbawa material longsor ke Sungai Mahakam.
Peristiwa ini memaksa Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV turun tangan. Kajian teknis dan penanganan darurat kini berjalan di lokasi untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Akses Darurat Jalan Poros Tenggarong–Samarinda Tetap Dibuka
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, ruas jalan tersebut tidak boleh putus total. Sebab, jalur ini merupakan urat nadi distribusi logistik dan mobilitas warga antara dua kota besar di Kaltim.
"Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti," kata Dody dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).
Untuk sementara, arus lalu lintas di sekitar titik longsor dialihkan. Kendaraan roda empat ke bawah dari arah Samarinda menuju Tenggarong diarahkan melewati jalan kabupaten dan jalan desa sepanjang 1,1 kilometer.
Sementara itu, kendaraan dari arah sebaliknya, Tenggarong menuju Samarinda, dialihkan melalui jalan alternatif sepanjang 400 meter. Kendaraan berat dengan roda enam ke atas diminta memutar melalui Kota Samarinda.
Pengeboran Tanah untuk Tentukan Metode Penanganan Permanen
Plt. Kepala BBPJN Kalimantan Timur Akmizal menyebut, timnya tengah bekerja di lapangan untuk memetakan seluruh titik yang terdampak. Proses identifikasi ini diperkirakan rampung dalam tiga pekan sejak kejadian longsor pertama.
Setelah pemetaan selesai, langkah berikutnya adalah penyelidikan tanah. Tim melakukan pengeboran untuk menguji karakteristik dan kedalaman lapisan tanah menggunakan metode Standard Penetration Test (SPT). Hasil uji ini menjadi dasar utama dalam menentukan desain konstruksi penanganan.
"Langkah pertama dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh lokasi terdampak untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam proses perencanaan dan desain penanganan. Selanjutnya dilakukan pengeboran tanah untuk mengetahui kedalaman dan kondisi tanah melalui pengujian SPT sebagai salah satu dasar dalam menentukan desain penanganan," jelas Akmizal.
Penyelidikan tanah ditargetkan tuntas dalam satu hingga dua pekan mendatang. Hasilnya nanti akan menentukan apakah penanganan permanen menggunakan sheet pile yang diperkuat tiang pancang atau metode konstruksi lain yang lebih sesuai dengan kondisi geoteknik di lapangan.
Keselamatan Warga Jadi Prioritas Utama
Akmizal menambahkan, keputusan akhir soal metode penanganan belum diambil. Pihaknya masih menunggu hasil kajian teknis dan penyelidikan tanah secara menyeluruh.
"Kami akan memilih opsi penanganan terbaik berdasarkan hasil penyelidikan dan kajian teknis di lapangan. Aspek keselamatan dan efektivitas penanganan menjadi prioritas, dengan tetap memperhatikan penggunaan anggaran yang ekonomis dan efisien," terangnya.
Selama masa kajian berlangsung, Kementerian PU bersama pemerintah daerah terus berkoordinasi. Fokus koordinasi tidak hanya pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pendampingan bagi warga yang rumahnya terdampak pergerakan tanah di bantaran Sungai Mahakam tersebut.