SAMARINDA — Festival Film Akhir Pekan yang digelar Dispar Kaltim mulai menembus pasar internasional. Ajang tahun ini tercatat diikuti 111 peserta dari kategori kompetisi maupun nonkompetisi, termasuk dua film yang dikirimkan sineas dari Brasil.
Masuknya karya dari luar negeri menjadi sinyal positif bagi pengembangan ekonomi kreatif di Benua Etam. Dispar Kaltim menilai momentum ini harus diperkuat agar Kaltim tidak hanya menjadi penonton di industri perfilman nasional.
Dua Film dari Brasil Tanda Awal Jejaring Global
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, mengungkapkan bahwa partisipasi internasional baru sebatas dua film dari Brasil. Meski jumlahnya kecil, ia optimistis angka tersebut akan bertambah pada penyelenggaraan berikutnya.
“Tahun ini hanya dua dari Brazil yang mengirimkan filmnya. Mudah-mudahan di tahun yang ke depan bisa lebih,” ujar Awang Khalik.
Target Ambisius: Lepas Nama 'Akhir Pekan'
Dispar Kaltim tidak ingin berhenti pada sekadar menambah jumlah peserta. Awang menegaskan bahwa pengembangan festival harus diiringi penguatan hubungan antar komunitas film. Jejaring yang solid dinilai mampu membuka peluang kolaborasi, pertukaran pengetahuan, hingga promosi karya kreator lokal ke pasar global.
“Harapan kita nanti di tahun depan kita bisa besar lagi acara ini, semakin kuat lagi ikatan jejaringnya bahkan sampai ke mancanegara,” kata Awang, Senin (31/8/2026).
Ia bahkan memiliki target lebih jauh: menghilangkan nama Festival Film Akhir Pekan. Menurutnya, skala kegiatan harus naik kelas menjadi festival film internasional yang menarik karya dari berbagai negara. Hal ini sekaligus menjadi strategi meningkatkan daya saing Kaltim di industri kreatif nasional.
Bagian dari Ekosistem Ekonomi Kreatif Kaltim
Festival ini merupakan salah satu program pengembangan ekonomi kreatif yang mencakup berbagai subsektor, tidak hanya perfilman. Pemerintah daerah berharap penguatan ekosistem ini mampu memperkenalkan karya-karya asli Kalimantan Timur ke pasar yang lebih luas.
Dengan jejaring global yang mulai terbentuk, Kaltim berpeluang menjadi salah satu destinasi festival film alternatif di Indonesia bagian timur. Ke depan, dukungan lintas sektor diperlukan agar festival tidak hanya ramai peserta lokal, tetapi juga diminati sineas mancanegara.