KALIMANTAN TIMUR — Kondisi keuangan WIKA masih belum sepenuhnya pulih, tapi ada sinyal perbaikan yang bisa dibaca dari laporan keuangan terbaru. Rugi bersih yang menyusut ini jadi tanda bahwa upaya restrukturisasi dan efisiensi yang dijalankan manajemen mulai menunjukkan hasil, kendati beban masa lalu masih membayangi.
Pendapatan Naik Berkat Segmen Ini
Pemasukan WIKA sepanjang Januari–Juni 2026 ditopang segmen infrastruktur dan gedung yang menyumbang Rp3,38 triliun. Disusul industri sebesar Rp1,48 triliun, lalu energi dan industrial plant Rp1,06 triliun.
Selain tiga bisnis utama itu, pendapatan lain datang dari investasi Rp156,02 miliar, hotel Rp116,24 miliar, serta realty dan properti Rp81,14 miliar. Kontribusi beragam ini menunjukkan WIKA tak lagi bergantung pada satu lini bisnis.
Beban Ditekan, Laba Kotor Melonjak
Perbaikan paling mencolok justru terlihat di pos laba kotor. Beban pokok pendapatan tercatat Rp5,39 triliun, sehingga WIKA membukukan laba kotor Rp886,33 miliar — melonjak 87,56% secara tahunan.
Lonjakan ini mengindikasikan efisiensi biaya proyek mulai terasa. Dengan kata lain, untuk setiap rupiah pendapatan yang masuk, porsi yang tersisa setelah dipotong biaya langsung semakin besar dibanding tahun lalu.
Aset Menyusut, Ekuitas Nipis
Satu hal yang masih perlu jadi perhatian adalah struktur keuangan. Per 30 Juni 2026, total aset WIKA mencapai Rp48,95 triliun, turun 2,40% dibanding akhir 2025.
Dari jumlah itu, liabilitas tercatat Rp48,82 triliun dan ekuitas hanya Rp130,16 miliar. Rasio ini menunjukkan posisi ekuitas yang sangat tipis, artinya ruang gerak keuangan perusahaan masih sempit untuk ekspansi besar.
Kendati demikian, pasar biasanya memandang penyusutan rugi sebagai sinyal awal pemulihan. Bagi WIKA, konsistensi menekan biaya dan menambah kontrak baru di semester kedua akan jadi kunci untuk keluar dari zona merah.