Operasi modifikasi cuaca (OMC) yang digelar Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) sejak Jumat (21/8) hingga Senin (24/8) mulai membuahkan hasil. Hujan dilaporkan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Kartanegara, sekaligus mendongkrak elevasi air di intake Sungai Sepaku yang menjadi sumber baku utama kawasan IKN.
NUSANTARA — Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengungkapkan hujan mulai terpantau di sejumlah titik sejak akhir pekan lalu. Data Pos Curah Hujan di Long Lebusan, Hulu Wilayah Sungai Mahakam, mencatat hujan mengguyur Kabupaten Mahakam Ulu pada Sabtu (22/8) pukul 02.00–02.30 Wita dengan intensitas sekitar 20 milimeter.
"Selain itu, terdapat informasi hujan juga terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara," ujar Danis di Nusantara, Senin (24/8).
Muka Air Sungai Sepaku Naik 1 Sentimeter
Dampak positif OMC tak hanya dirasakan di kabupaten penyangga. Di kawasan IKN sendiri, elevasi muka air di intake Sungai Sepaku tercatat mengalami kenaikan. Posisi yang semula berada di +2,04 meter kini naik menjadi +2,05 meter atau bertambah sekitar 1 sentimeter pada pukul 08.20 Wita.
Danis berharap elevasi air ini terus bertambah seiring masih berlangsungnya penyemaian awan. Ketersediaan air permukaan menjadi krusial untuk memenuhi kebutuhan konstruksi dan operasional harian di ibu kota negara yang tengah dibangun.
800 Kilogram Garam Disemai per Penerbangan
Untuk memaksimalkan potensi hujan, OIKN menerjunkan pesawat Casa 212 A-2105 dari Markas Operasi Lanud Dhomber Balikpapan. Hingga Senin siang, tercatat sudah lima sortie penerbangan dilakukan dengan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) pada setiap sortie.
Antisipasi El Nino dan Ancaman Karhutla
Operasi ini merupakan bagian dari misi antisipasi dampak El Nino, musim kering, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). OIKN menggandeng sejumlah institusi, mulai dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
"Pelaksanaannya dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer. Tujuannya agar bahan semai dapat diarahkan pada awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan," jelas Danis.
Upaya berbasis sains dan teknologi ini dinilai strategis untuk menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah penyangga IKN, sekaligus menekan risiko bencana asap yang kerap melanda provinsi penghasil batu bara tersebut saat musim kemarau.