KALIMANTAN TIMUR — Trump menyampaikan perintah tersebut melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Selasa (4/8). Kepada para awak media, ia secara eksplisit menyebut kedua korporasi itu meraup keuntungan yang tidak wajar. "Mereka menghasilkan terlalu banyak uang. Saya tidak menyukainya ... Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak uang," ujar Trump.
Dalam unggahannya, Trump menegaskan kebijakan penurunan harga ini tidak hanya berlaku bagi Chevron, tetapi juga seluruh perusahaan minyak yang beroperasi di Amerika Serikat. Ia bahkan menuntut agar penurunan harga dilakukan segera, tanpa menunggu siklus bisnis berikutnya.
Keuntungan Berlipat yang Memantik Kemarahan Gedung Putih
Yang menjadi pemicu utama kemarahan Trump adalah lonjakan pendapatan yang dinilainya eksesif. Ia menyebut beberapa perusahaan mencatatkan keuntungan hingga 12 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Trump, keuntungan sebesar itu harus dikembalikan kepada masyarakat sebagai kompensasi atas beban biaya energi yang mereka tanggung.
Tekanan politik ini bukan kali pertama dilayangkan pemerintah AS kepada sektor hilir migas. Pada akhir Juni lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah melontarkan peringatan serupa. Bessent menyatakan para pengecer bahan bakar dapat dimintai pertanggungjawaban hukum apabila terbukti menaikkan harga secara berlebihan dan tidak wajar.
Kronologi Ketegangan yang Membayangi Pasar Energi
Desakan Trump ini hadir di tengah pasar energi yang sedang dilanda ketidakpastian besar akibat konflik AS-Iran. Eskalasi dimulai sejak penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang pecah pada 28 Februari. Namun, kesepakatan itu hanya bertahan singkat; Trump mengumumkan gencatan senjata tidak lagi berlaku pada 8 Juli.
Menyusul batalnya gencatan senjata, militer AS langsung melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi ini merupakan respons atas tindakan Iran yang mengganggu kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Iran tidak tinggal diam dan membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Blokade di Jalur Minyak Paling Vital Dunia
Puncak ketegangan terjadi pada 12 Juli ketika Teheran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Penutupan ini akan berlaku hingga campur tangan Amerika Serikat di kawasan tersebut berakhir. Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima total konsumsi minyak dunia, sehingga kebijakan ini berpotensi memicu lonjakan harga global yang signifikan.
Gedung Putih merespons dengan cepat. Sehari setelah pengumuman Iran, Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil peran sebagai "penjaga" Selat Hormuz. Selain itu, Washington juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran, sebuah langkah yang semakin memperunyam situasi diplomatik dan militer di Timur Tengah.
Tekanan politik domestik dan ketegangan geopolitik ini menempatkan perusahaan-perusahaan energi AS pada posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka menghadapi permintaan langsung dari presiden untuk menurunkan harga. Di sisi lain, kondisi pasar yang tidak stabil justru kerap menjadi alasan bagi korporasi untuk mempertahankan harga tinggi demi mengamankan margin di tengah risiko gangguan pasokan.