Pencarian

Satpol PP PPU Soroti Minimnya SPBU di Pedalaman, Antrean Panjang di Babulu Jadi Bukti Kebutuhan BBM Tinggi

Selasa, 14 Juli 2026 • 10:30:31 WIB
Satpol PP PPU Soroti Minimnya SPBU di Pedalaman, Antrean Panjang di Babulu Jadi Bukti Kebutuhan BBM Tinggi
Antrean kendaraan mengular di SPBU Babulu, Kecamatan Babulu, beberapa waktu lalu akibat tingginya kebutuhan BBM masyarakat.

PENAJAM — Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP PPU, Ali Tubo, mengungkapkan hasil identifikasi di lapangan menunjukkan kebutuhan BBM masyarakat tidak sebanding dengan jumlah SPBU yang tersedia. Kondisi ini paling terasa di kawasan yang jauh dari pusat kota.

Antrean Panjang di SPBU Babulu Jadi Alarm

Bukti nyata dari tingginya kebutuhan BBM terlihat beberapa waktu lalu di Kecamatan Babulu. Antrean kendaraan mengular panjang di SPBU setempat hingga membuat Satpol PP PPU turun tangan melakukan pengamanan dan penertiban.

“Beberapa minggu lalu kami melakukan pengamanan dan penertiban di SPBU Babulu karena terjadi lonjakan antrean kendaraan yang cukup tinggi,” kata Ali Tubo, Kamis (17/4).

Peristiwa ini menjadi sinyal bahwa kapasitas SPBU yang ada sudah tidak mampu menampung kebutuhan warga, terutama pada jam-jam sibuk atau menjelang hari besar.

Wilayah Pedalaman Jadi Titik Rawan

Ali menyebut persoalan distribusi BBM tidak hanya terjadi di Kecamatan Penajam. Sejumlah wilayah lain seperti Sungai Parit dan Kecamatan Babulu juga memiliki kebutuhan bahan bakar yang cukup tinggi namun minim akses.

“Kalau melihat hasil identifikasi di lapangan, persoalan utamanya memang kebutuhan SPBU. Masih ada wilayah yang belum terlayani dengan baik,” ujarnya.

Keterbatasan ini memaksa warga pedalaman menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mengisi bahan bakar kendaraan atau membeli BBM eceran dengan harga lebih mahal.

Pertashop Jadi Solusi Alternatif

Satpol PP PPU telah menyampaikan masukan kepada pimpinan daerah agar mendorong penambahan titik penyaluran BBM. Salah satu opsi yang dinilai paling realistis untuk wilayah desa dan kelurahan adalah pengembangan Pertashop.

“Mungkin bisa didorong pengembangan Pertashop di wilayah desa atau kelurahan karena kebutuhan BBM masyarakat memang cukup tinggi,” jelas Ali.

Pertashop dinilai lebih mudah dibangun dan dikelola di daerah terpencil dibandingkan SPBU konvensional yang membutuhkan lahan luas dan investasi besar. Model ini juga sudah terbukti berhasil di sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.

Dampak Ekonomi Jika Tak Segera Dibenahi

Minimnya SPBU di pedalaman PPU tidak hanya menyulitkan warga, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi. Petani, nelayan, dan pelaku UMKM di daerah terpencil menjadi yang paling terdampak karena bergantung pada pasokan BBM untuk menggerakkan mesin produksi dan transportasi hasil bumi.

“Faktor keterbatasan SPBU yang belum menjangkau wilayah-wilayah itu menjadi persoalan di hulunya,” tegas Ali.

Tanpa intervensi penambahan titik penyaluran, kesenjangan akses energi antara wilayah perkotaan dan pedalaman di PPU diprediksi akan terus melebar. Pemerintah daerah diharapkan segera merumuskan kebijakan yang mendorong investasi SPBU maupun Pertashop di titik-titik strategis yang selama ini belum tersentuh.

Follow www.halobalikpapan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: editorialkaltim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks