JAKARTA — Ajakan untuk bermain dalam sebuah film kolosal bertema sejarah Dayak-Majapahit disambut antusias oleh Presiden Joko Widodo. Panglima Jilah, tokoh adat Dayak asal Kalimantan Timur, yang menyampaikan langsung undangan tersebut kepada Presiden.
“Jadi figuran pun saya siap,” ujar Jokowi merespons tawaran tersebut. Pernyataan itu menunjukkan keterbukaan kepala negara untuk terlibat dalam proyek yang mengangkat kembali narasi sejarah Nusantara dari sisi lokal.
Mengapa Film Kolosal Dayak-Majapahit Ini Penting?
Film ini rencananya akan mengisahkan hubungan antara Kerajaan Dayak dan Majapahit pada masa lampau. Menurut Panglima Jilah, proyek ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya meluruskan sejarah yang kerap dipotong dari sudut pandang Jawa sentris.
“Kami ingin generasi muda tahu bahwa Kalimantan Timur punya peran besar dalam sejarah Nusantara. Majapahit dan Dayak pernah bersatu,” kata Panglima Jilah saat menyampaikan gagasannya di hadapan Presiden.
Siapa Panglima Jilah dan Perannya di Kaltim?
Panglima Jilah dikenal sebagai tetua adat Dayak yang aktif menjaga tradisi dan kearifan lokal di Kalimantan Timur. Ia juga kerap menjadi jembatan antara pemerintah pusat dan komunitas adat di wilayah pedalaman.
Keterlibatannya dalam proyek film ini menjadi sinyal bahwa budaya lokal kini mulai mendapat tempat di industri kreatif nasional. Ia berharap film ini bisa diproduksi dengan melibatkan sineas lokal dan pemain dari suku Dayak asli.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Proyek Film Ini?
Meski belum ada jadwal produksi resmi, Presiden Jokowi disebut mendukung penuh gagasan ini. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diharapkan bisa memfasilitasi riset sejarah dan pendanaan awal.
“Ini proyek besar. Kami butuh dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan pusat,” tambah Panglima Jilah. Ia optimistis film ini bisa menjadi ikon baru sinema Indonesia yang mengangkat cerita dari Timur.
Apakah Film Ini Akan Diproduksi di Kalimantan Timur?
Lokasi syuting direncanakan di beberapa titik di Kalimantan Timur, termasuk kawasan pedalaman yang masih menyimpan situs sejarah Dayak. Panglima Jilah ingin memastikan film ini tidak hanya bercerita, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Kami ingin syuting di kampung-kampung. Biar warga ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya. Kehadiran Presiden sebagai figuran, meski kecil, diyakini bisa menjadi daya tarik besar bagi publik dan investor.