KALIMANTAN TIMUR — Bencana hidrometeorologi di Sukabumi kembali memutus akses vital warga terhadap air bersih. Longsor dan pohon tumbang di kawasan TNGGP, Kecamatan Ciambar, menghancurkan pipa transmisi utama milik Perumda Air Minum Tirta Jaya Mandiri (AMTJM) yang mengalirkan air dari sumber (intake) menuju instalasi pengolahan air (WTP). Akibatnya, pasokan untuk ribuan pelanggan terhenti total.
Kerusakan Pipa dan Skala Dampak
Direktur Umum Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi, Budiarkah, mengonfirmasi bahwa pipa berukuran 10 inci itu putus akibat tertimpa material longsor dan batang pohon besar. Lokasi kejadian berada di area sumber air yang dikelola oleh Balai TNGGP.
"Terjadi longsoran akibat hujan lebat yang menyebabkan pohon tumbang dan menimpa pipa berukuran 10 inci di wilayah Kecamatan Ciambar. Lokasinya berada di area sumber dari Taman Nasional yang mengarah ke pengolahan," kata Budiarkah saat dikonfirmasi pada Senin (25/5/2026).
Perusahaan mendata, antara 2.500 hingga 3.000 kepala keluarga pelanggan di Ciambar dipastikan mengalami gangguan distribusi air bersih. Belum ada perkiraan kapan perbaikan selesai, namun tim teknik sudah diterjunkan sejak Senin pagi.
Respons Cepat dan Permohonan Maaf Manajemen
Manajemen Perumda tidak tinggal diam. Budiarkah menyebut tim teknis langsung bergerak ke titik kejadian untuk melakukan perbaikan darurat, meski medan di kawasan TNGGP tergolong sulit dan rawan longsor susulan.
"Saat ini petugas dari bagian teknik sudah langsung bergerak dan sedang menangani masalah tersebut di lapangan. Kami mengupayakan perbaikan secepat mungkin agar distribusinya bisa kembali optimal," tambahnya.
Di sisi lain, manajemen perusahaan pelat merah itu menyadari dampak sosial yang ditimbulkan. Perwakilan manajemen, Kamaludin, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh pelanggan yang terdampak.
"Kami berharap masyarakat dapat bersabar selama proses pemulihan jalur pipa selesai dilakukan," tuturnya.
Ancaman Krisis Air di Tengah Musim Hujan
Ironisnya, krisis air bersih ini terjadi justru di tengah tingginya curah hujan di Sukabumi. Kejadian ini membuka celah kerentanan infrastruktur air Perumda yang sebagian besar jaringannya melintasi kawasan hutan lindung dan perbukitan terjal. Belum ada pernyataan resmi dari Balai TNGGP terkait kondisi vegetasi di sekitar titik longsor.
Hingga berita ini diturunkan, petugas masih berjibaku di lapangan. Warga diimbau untuk menampung air hujan atau memanfaatkan sumber air alternatif sementara waktu. Perumda berjanji akan memberikan informasi perkembangan perbaikan secara berkala.