Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kalimantan Timur mendorong para peternak ruminansia, termasuk sapi, kambing, dan domba, untuk segera menerapkan mitigasi dampak kekeringan. Langkah ini menyusul ancaman penurunan drastis produksi pakan hijauan dan menyusutnya debit air di sejumlah sumber air yang bisa memicu penurunan bobot badan ternak.
SAMARINDA — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Timur memaksa para peternak untuk beradaptasi cepat. DPKH Kaltim mencatat kombinasi pakan berkualitas yang menipis dan keterbatasan air minum menjadi ancaman nyata bagi produktivitas hewan ternak, mulai dari penurunan bobot badan, produksi susu yang merosot, hingga risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
Kepala DPKH Kaltim Arief Murdiyatno mengungkapkan, musim kemarau membuat rumput di padang penggembalaan menjadi lebih kering, berserat tinggi, dan kandungan nutrisinya rendah. Kondisi ini diperparah dengan penurunan signifikan debit air di sumur, sungai, dan embung yang dalam kondisi buruk dapat mengering total.
Untuk meminimalkan kerugian ekonomi, DPKH Kaltim meminta para peternak tidak hanya mengandalkan rumput segar. Ada tiga langkah utama yang disarankan untuk menjaga kestabilan usaha peternakan di tengah anomali cuaca.
Selain pakan, ketersediaan air minum menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. DPKH Kaltim menyarankan peternak membangun tandon, embung, atau kolam penampungan air untuk menjamin pasokan air bersih bagi hewan ternak selama musim kemarau berlangsung.
Arief menambahkan, pemantauan rutin terhadap kondisi fisik ternak dan ketersediaan pakan-air wajib dilakukan secara periodik. "Langkah ini diharapkan mampu membantu para peternak di Kalimantan Timur untuk tetap mempertahankan produktivitas dan kesehatan ternaknya di tengah anomali cuaca," ujarnya di Samarinda, Jumat.
Langkah antisipatif ini dinilai krusial mengingat sektor peternakan ruminansia di Kaltim berperan penting dalam rantai pasok daging dan susu regional. Jika peternak gagal beradaptasi, dampaknya bukan hanya pada penurunan pendapatan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas harga pangan asal hewan di pasaran.