KALIMANTAN TIMUR — Dalam diskusi mingguan FWK di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026, masalah ini dibahas secara mendalam. Para peserta menyoroti dampak asap yang tidak hanya merusak wilayah, tetapi juga mulai mengganggu negara tetangga seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Pendiri FWK, Hendry Ch. Bangun, menyampaikan kekhawatirannya dengan tegas. “Karhutla di Kalimantan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga merusak kesehatan manusia dan mengakibatkan binatang-binatang yang menjadi kekayaan alam Kalimantan semakin sedikit jumlahnya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kerusakan ini memiliki efek berantai pada ekosistem hingga kesejahteraan masyarakat lokal.
Asap tebal juga mengganggu jarak pandang di sejumlah wilayah. Kondisi ini berdampak langsung pada perjalanan darat dan penerbangan, termasuk jadwal di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, yang mengalami keterlambatan. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan keselamatan serta kelancaran mobilitas warga.
Di sisi lain, Anggota FWK, Untung Kurniadi, menilai respons pemerintah belum memadai. Kebakaran besar di Kalimantan, katanya, telah berlangsung berhari-hari dan belum sepenuhnya teratasi. Ia mendesak langkah konkret yang lebih cepat, terukur, dan berkelanjutan dari pemerintah pusat maupun daerah.