SAMARINDA — Tumpukan buku dengan harga lebih terjangkau di Festival Literasi Kaltim membuka ruang bagi pembaca untuk bereksperimen dengan judul-judul di luar preferensi biasanya. Pengalaman ini dirasakan Zahra dan Zaskia, dua mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda yang datang bersama Out of the Boox Gudang Buku Keliling.
Alih-alih hanya memburu daftar incaran, keduanya mengaku memanfaatkan momen ini untuk memperluas cakrawala bacaan. Potongan harga yang ditawarkan menjadi faktor pendorong utama untuk mengambil risiko pada buku yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Zaskia, yang biasanya menyukai novel romance serta genre crime, thriller, dan mystery, justru membawa pulang buku di luar kebiasaannya. Ia memutuskan membeli secara blind buy setelah membaca sinopsis di tempat.
Buku yang dipilihnya berkisah tentang seorang laki-laki yang bekerja sama dengan iblis, sementara seorang perempuan berusaha menghentikannya dengan cara tak biasa. Rasa penasaran itu dimanfaatkannya karena buku tersebut tengah mendapat potongan harga 50 persen.
"Kayak blind buy aja. Kebetulan dari penerbit yang bagus kan, jadi saya penasaran," ungkap Zaskia saat ditemui di Aula Tower Dispora Kaltim, Sabtu (29/8).
Buku yang semula dibanderol sekitar Rp120 ribuan itu akhirnya ia bawa pulang dengan harga Rp64.500. Keputusan ini diambilnya setelah mempertimbangkan kualitas penerbit sebagai jaminan mutu cerita.
Berbeda dengan Zaskia, Zahra yang merupakan mahasiswi jurusan hukum lebih tertarik pada buku-buku bertema isu sosial. Dalam kunjungannya kali ini, ia membawa pulang dua judul: Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire dan Down and Out in Paris and London karya George Orwell.
Zahra menghabiskan sekitar Rp137 ribu untuk dua buku pilihannya. Menurutnya, ketertarikannya pada buku sosial kerap bersinggungan dengan bidang hukum yang sedang dipelajarinya di kampus.
"Biasanya ke isu-isu sosial, dikemas pakai novel. Atau kalau memang lagi mood, bacanya yang nonfiksi," ujarnya.
Meski harga menjadi pertimbangan, Zahra menilai buku murah belum tentu langsung menjadi pilihan utama. Ia menyebut sebagian buku yang mendapat potongan harga besar bukan merupakan judul yang paling banyak dicari pembaca.
"Kalau dari harga lumayan sih murah. Cuma kurangnya itu karena dia yang murah bukan yang benar-benar bestseller," tuturnya.
Ketertarikan Zahra dan Zaskia terhadap buku bukan hal baru. Keduanya sudah mengenal kebiasaan membaca sejak duduk di bangku sekolah dasar, dipicu oleh perpustakaan kecil milik adik ayah mereka yang berada di kamar.
Kebiasaan itu sempat meredup saat memasuki SMP karena belum memiliki uang sendiri untuk membeli banyak buku. Namun, kegemaran membaca tetap bertahan hingga keduanya duduk di bangku kuliah.
Orang tua mereka tidak secara khusus memberikan uang untuk membeli buku. Zahra dan Zaskia justru belajar mengatur keuangan sendiri jika ingin menambah koleksi bacaan.
Kini, kehadiran festival literasi di Samarinda memberi ruang bagi keduanya untuk menjalankan kebiasaan lama: melihat-lihat buku, memilih sesuai minat, dan sesekali memberi kesempatan pada judul yang belum pernah dikenal. Bagi pembaca seperti mereka, festival bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan pengalaman menemukan hal baru di antara rak-rak bacaan yang mungkin tak pernah masuk dalam daftar pencarian.