KALIMANTAN TIMUR — Lonjakan valuasi ini menandai lompatan signifikan dari angka US$10,9 miliar yang dibukukan Oura saat putaran pendanaan terakhirnya. Dengan rencana IPO yang dilaporkan oleh Bloomberg, perusahaan dengan lebih dari 900 karyawan ini berada di jalur untuk menjadi salah satu pemain wearable terbesar di pasar modal.
Oura memulai perjalanannya sebagai perangkat khusus untuk para eksekutif dan penggiat biohacking. Kini, perusahaan bertransformasi menjadi merek kesehatan dan pemulihan yang menjangkau audiens lebih luas, bersaing langsung dengan Samsung Galaxy Ring dan Whoop.
Whoop sendiri, kompetitor terdekat Oura, baru saja mencapai valuasi US$10 miliar pada Maret lalu setelah memperluas fokusnya ke pelacakan hormon dan pengujian darah untuk kesehatan perimenopause dan tiroid. Oura mengikuti pola serupa dengan memperkuat posisinya di segmen pelacakan tidur dan pemulihan harian.
Oura mengklaim telah membukukan pendapatan US$500 juta pada 2024 dan sekitar US$1 miliar pada 2025. Perusahaan menargetkan pendapatan mendekati US$2 miliar pada 2026, meskipun angka ini baru akan terverifikasi setelah dokumen S-1 dipublikasikan ke publik.
Rencana IPO ini sebenarnya sudah mengudara sejak Mei lalu, ketika Oura secara resmi mengajukan pendaftaran rahasia ke SEC. Investor yang berpartisipasi dalam putaran pendanaan sebelumnya termasuk Fidelity, ICONIQ, Whale Rock, dan Atreides, serta investor awal seperti Dexcom, The Chernin Group, Forerunner Ventures, Coatue, dan Temasek.
Di tengah persiapan IPO, Oura menghadapi gugatan class action yang diajukan pekan lalu di San Francisco. Gugatan tersebut menuduh perusahaan menyesatkan konsumen mengenai akurasi fitur pelacakan tidurnya, dengan klaim bahwa perangkat tersebut tidak mampu mengukur tahap tidur secara presisi tanpa elektroda di kulit kepala dan sensor mata seperti yang digunakan di lingkungan klinis.
Menanggapi tuduhan ini, juru bicara Oura menegaskan bahwa perusahaan akan membela diri di forum hukum yang tepat. "Meskipun Oura Ring bukan perangkat medis atau pengganti studi tidur klinis, penahapan tidur Oura telah divalidasi dan dibandingkan secara menguntungkan dalam berbagai studi terhadap polisomnografi, standar emasnya," demikian pernyataan resmi perusahaan.
Kabar IPO ini menjadi sinyal positif bagi pasar perangkat wearable di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang terus tumbuh. Jika Oura berhasil melantai dengan valuasi tersebut, posisi tawar perusahaan di pasar regional akan semakin kuat, berpotensi mendorong adopsi smart ring di kalangan profesional dan pebisnis Indonesia yang mulai sadar akan pentingnya pemantauan kesehatan harian.
Keputusan final mengenai jadwal IPO masih menunggu kondisi pasar, namun sumber Bloomberg menyebut target awal September sebagai waktu yang paling mungkin. Publikasi dokumen S-1 akan menjadi momen krusial berikutnya untuk menguji klaim pendapatan Oura di hadapan investor publik.