BALIKPAPAN — Camat Balikpapan Tengah, Dwi Riyadi, menekankan bahwa bimtek ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas para ketua RT dalam menghadapi dinamika sosial di lingkungannya. Ia menyebut, peran RT sangat vital sebagai jembatan antara warga dan pemerintah kota.
Menurut Dwi, ketua RT kerap dihadapkan pada persoalan kompleks, mulai dari administrasi kependudukan, penanganan konflik warga, hingga koordinasi bantuan sosial. Bimtek ini dirancang untuk memberikan pemahaman teknis sekaligus membangun kepekaan sosial agar pelayanan kepada warga berjalan optimal.
Para peserta mendapatkan materi tentang tata kelola administrasi RT, mekanisme pelaporan, serta pengelolaan data warga yang akurat. Materi lain mencakup teknik komunikasi efektif dan penanganan awal masalah sosial di tingkat lingkungan.
Dengan bekal pemahaman yang lebih baik, para ketua RT diharapkan mampu merespons keluhan warga secara lebih cepat dan tepat. Hal ini mencakup percepatan pembuatan surat pengantar, verifikasi data penerima bantuan, hingga mediasi jika terjadi perselisihan antarwarga.
Dwi menambahkan, “Kami ingin ketua RT bukan hanya sebagai pemberi tanda tangan, tetapi juga agen perubahan yang peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.” Ia berharap, kepedulian sosial yang meningkat dapat mencegah timbulnya masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Pemerintah Kecamatan Balikpapan Tengah berencana mengadakan bimtek serupa secara berkala. Dwi mengakui bahwa pelatihan satu kali saja tidak cukup untuk membekali para ketua RT yang jumlahnya mencapai ratusan orang di wilayahnya.
Ke depan, akan ada program pendampingan dan evaluasi berkala untuk memastikan ilmu yang didapat benar-benar diterapkan di lapangan. Para ketua RT juga akan dilibatkan dalam forum-forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat kelurahan agar suara warga lebih terwakili.
Seluruh ketua RT aktif di Kecamatan Balikpapan Tengah, yang tersebar di beberapa kelurahan, menjadi peserta wajib dalam kegiatan ini. Pemerintah kecamatan mencatat, total ada 163 ketua RT yang hadir, mewakili hampir seluruh lingkungan di wilayah tersebut.
Antusiasme peserta terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Banyak ketua RT yang mengaku mendapatkan perspektif baru dalam menyelesaikan masalah di lapangan, terutama terkait administrasi dan pendekatan kepada warga.