Kecanduan Internet Remaja Meningkat Saat Konsumsi Alkohol dan Rokok Menurun

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Senin, 04 Mei 2026 | 18:05:01 WIB

Laporan ESTUDES 2025 menunjukkan pergeseran perilaku remaja usia 14-18 tahun yang kini lebih rentan terhadap kecanduan digital dibandingkan zat adiktif konvensional. Sebanyak 19,4 persen pelajar dilaporkan mengalami masalah penggunaan internet serius akibat pola desain aplikasi yang memicu ketergantungan.

Citra pemberontakan remaja yang selama puluhan tahun identik dengan rokok, alkohol, atau obat-obatan terlarang kini mulai bergeser secara signifikan. Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Spanyol melalui survei ESTUDES 2025 mengungkap tren unik: konsumsi zat berbahaya menurun, namun digantikan oleh adiksi kompulsif terhadap internet dan fitur scroll tanpa henti di platform seperti TikTok.

Data menunjukkan penurunan drastis pada konsumsi alkohol di kalangan remaja usia 14 hingga 18 tahun. Jika pada 1994 sebanyak 81,4 persen remaja mengaku pernah mencoba alkohol, angka tersebut menyusut menjadi 73,9 persen pada 2025. Konsumsi dalam 30 hari terakhir juga turun ke angka 51,8 persen, sebuah rekor terendah dalam sejarah pencatatan medis di negara tersebut.

Meski penggunaan alkohol dan ganja menyentuh titik nadir, otoritas kesehatan justru menyoroti ancaman baru yang lebih sulit dideteksi. Remaja saat ini memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, namun mereka terjebak dalam ekosistem digital yang dirancang untuk memanipulasi hormon dopamin secara terus-menerus.

Anatomi Adiksi Digital Remaja 2025

Kementerian Kesehatan Spanyol mengidentifikasi bahwa teknologi telah mengubah cara remaja berinteraksi dengan dunia, yang sekaligus menjelaskan mengapa mereka jarang berkumpul di ruang publik untuk mengonsumsi alkohol. Berdasarkan data riset tersebut, berikut adalah rincian masalah yang dihadapi pelajar:

  • Penggunaan Internet Bermasalah: 19,4 persen siswa menunjukkan gejala ketergantungan internet yang mengganggu produktivitas.
  • Kecanduan Media Sosial: 15,3 persen terjebak dalam mekanisme desain adiktif atau doomscrolling yang memicu kecemasan.
  • Adiksi Video Game: 5,2 persen menunjukkan gejala kecanduan gim, diperparah oleh sistem loot boxes yang menyerupai mekanisme judi.
  • Vaping: Penggunaan rokok elektrik atau vape dengan berbagai varian rasa menjadi satu-satunya konsumsi zat yang masih menunjukkan angka tinggi di kelompok usia ini.

Fenomena loot boxes atau kotak virtual berbayar dalam gim menjadi perhatian khusus karena melatih otak remaja untuk terbiasa dengan spekulasi. Untuk mendapatkan item kosmetik atau senjata langka, pemain harus mengandalkan keberuntungan, sebuah pola yang identik dengan mesin slot di kasino.

Tantangan Regulasi dan Pengawasan Orang Tua

Pergeseran jenis adiksi ini menghadirkan tantangan baru bagi kebijakan publik dan pola asuh. Berbeda dengan rokok yang meninggalkan bau menyengat sebagai tanda peringatan bagi orang tua, kecanduan internet bersifat "senyap". Seorang anak bisa saja mengembangkan adiksi parah di dalam kamar tanpa disadari oleh keluarga yang menganggap mereka hanya sedang bermain ponsel.

Menanggapi situasi ini, beberapa negara mulai mengambil langkah drastis. Australia telah memulai langkah untuk melarang akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Spanyol kini tengah mengkaji kebijakan serupa guna membatasi praktik adiktif yang terus diperkuat oleh algoritma aplikasi media sosial global.

Relevansi bagi Pengguna di Indonesia

Situasi di Spanyol mencerminkan kondisi global yang juga relevan dengan pasar Indonesia, di mana penetrasi pengguna media sosial sangat tinggi. Indonesia memiliki karakteristik serupa dalam hal konsumsi konten durasi pendek yang masif. Tanpa regulasi ketat mengenai batas usia dan mekanisme algoritma, risiko gangguan kesehatan mental pada generasi muda lokal bisa meningkat.

Pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo sebenarnya telah mulai memperketat aturan klasifikasi gim dan perlindungan data pribadi. Namun, pengawasan terhadap fitur desain adiktif seperti infinite scroll dan notifikasi persisten masih menjadi area abu-abu yang memerlukan perhatian lebih dari regulator maupun praktisi kesehatan mental anak.

Tren ini membuktikan bahwa tantangan remaja masa kini bukan lagi soal menjauhi pergaulan bebas di jalanan, melainkan bagaimana mengelola batasan di dunia digital. Fokus kebijakan publik ke depan diprediksi akan lebih banyak menyasar pada audit algoritma dan transparansi desain aplikasi untuk melindungi kelompok usia rentan.

Reporter: Wahyu Hidayat
Back to top