SAMARINDA — Praktisi hipnoterapi klinis Endro S. Effendi menyoroti peran krusial ibu dalam membentuk kesehatan emosional anak, tidak hanya sekadar pengasuhan fisik. Menurutnya, kualitas seorang ibu sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola perasaan di tengah tekanan rumah tangga dan sosial.
"Madrasah atau kuliah pertama bagi anak-anak itu kan di rumah. Yang lebih banyak di rumah itu kan ibu-ibu. Maka kualitas seorang ibu itu ditentukan oleh bagaimana dia mengelola emosinya," ujar Endro, Selasa (18/8/2026).
Endro menjelaskan, pelampiasan emosi negatif orang tua kepada anak berpotensi mengubah perilaku anak saat berinteraksi di luar rumah. Sebaliknya, keluarga yang mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman akan melahirkan anak-anak yang lebih bahagia dan siap bersaing di masa depan.
Media Sosial Picu Kecemasan dan Overthinking
Perkembangan media sosial dinilai menjadi tantangan baru dalam pengelolaan emosi keluarga saat ini. Derasnya informasi membuat masyarakat semakin mudah membandingkan kehidupan pribadinya dengan orang lain, yang berujung pada kecemasan dan perasaan tidak mampu memenuhi ekspektasi.
"Pengaruh itu akan berpengaruh pada gaya hidup, pola hidup, dan akhirnya kalau kita tidak bisa memenuhi ekspektasi, overthinking dan kecemasan yang terjadi," jelasnya.
Kecemasan Dominasi Praktik Hipnoterapi di Samarinda
Dalam praktiknya di Samarinda, Endro menyebut kecemasan menjadi keluhan paling dominan yang ditangani. Kondisi ini kerap datang bersama gangguan emosional lain seperti mudah marah, overthinking, hingga perasaan tidak berharga yang berkepanjangan.
"Kasus yang paling banyak saya tangani adalah kecemasan. Kecemasan itu temannya pemarah, overthinking, dan berikutnya lagi merasa enggak berharga," ungkapnya.
Endro juga menyoroti kaitan antara kondisi psikologis dan keluhan fisik. Menurutnya, gangguan seperti asam lambung dalam sejumlah kasus dapat dipicu oleh faktor pikiran dan emosi yang tidak dikelola dengan baik, atau yang dikenal sebagai kondisi psikosomatis.
Kunci Menetralkan Emosi: Sadari Semua Peristiwa Itu Netral
Untuk mengelola kecemasan, Endro menyarankan masyarakat menyadari bahwa semua peristiwa pada dasarnya bersifat netral. Respons emosional kitalah yang menentukan bagaimana sebuah situasi dirasakan, bukan peristiwa itu sendiri.
"Yang paling pertama adalah sadari bahwa semua kejadian di dunia ini netral. Semuanya ini netral, hanya kita yang memberikan emosi," tuturnya.
Ia mencontohkan saat menghadapi orang yang sedang marah atau sulit diajak berkomunikasi, situasi tersebut tidak harus langsung direspons dengan emosi serupa. Memberikan waktu dan mencoba memahami penyebab perilaku orang lain dinilai lebih efektif untuk meredakan ketegangan.
"Kalau kita netral, kita menyadari, 'Oh sabar, mungkin perlu waktu.' Tinggal titip ke ajudannya nanti kalau bapaknya sudah tenang, ada waktu boleh kami wawancara," pungkasnya.