KUKAR — Limbah produksi yang selama ini diabaikan pelaku usaha kecil di pesisir Kukar, kini justru menjadi sumber pendapatan baru. Kelompok UKM Mawar di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, membuktikan bahwa kepala udang dan buah mangrove jenis pedada bisa disulap menjadi komoditas yang diminati hingga luar pulau.
Ketua Kelompok UKM Mawar, Nur Aliyah, mengatakan transformasi ini bermula dari pelatihan keterampilan yang difasilitasi Program M4CR dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut. Pelatihan itu mencakup pembuatan kerupuk udang, petis dari kepala udang, serta aneka minuman dari tumbuhan bakau yang sebelumnya tidak pernah dimanfaatkan.
Berawal dari Tantangan Membuat Resep Inovatif
Nur Aliyah menuturkan, dalam pelatihan tersebut para peserta justru ditantang untuk mengembangkan resep baru dari potensi alam sekitar. Dari tantangan itulah, salah satu anggota kelompok mencoba mengolah buah mangrove menjadi sirup dan dodol dengan cita rasa asam manis.
"Waktu pelatihan itu, kami juga ditantang narasumber membuat inovasi resep dari potensi yang ada di desa. Jadi ada teman-teman kemudian mencoba membuat sirup dari buah mangrove, Alhamdulillah berhasil dan enak, jadi sampai sekarang tetap diproduksi," kata Nur Aliyah di desanya, Senin.
Keberhasilan ini tidak hanya menambah ragam produk, tetapi juga secara langsung mengurangi limbah lingkungan. Sebelumnya, kepala udang hasil tangkapan dan pengolahan kerap dibuang begitu saja, sementara buah bakau tidak pernah tersentuh sama sekali.
Produk Andalan Tembus Pasar Jawa dan Sulawesi
Dari sekian produk yang dihasilkan, kerupuk udang menjadi primadona. Peminatnya tidak hanya datang dari Anggana atau Kota Samarinda, tetapi juga merambah Pulau Sulawesi dan Jawa. Nilai tambah ekonomi pun dirasakan langsung oleh 13 anggota kelompok yang tergabung dalam UKM Mawar.
"Kami bersyukur karena bisa memproduksi kerupuk udang dan petis dari kepala udang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, sehingga mampu memberi nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi limbah produksi," ujar Nur Aliyah.
Produksi Kolektif di Rumah Produksi Bersama
Seiring meningkatnya permintaan, kelompok ini tidak lagi berproduksi secara sendiri-sendiri. Seluruh anggota yang sebelumnya membuat produk di rumah masing-masing, kini memusatkan kegiatan di satu rumah produksi bersama. Langkah ini ditempuh untuk menjaga konsistensi kualitas dan mempermudah pengawasan mutu produk.
Ke depan, kelompok ini berharap pendampingan dari pemerintah terus berlanjut, terutama dalam hal perizinan usaha dan perluasan pemasaran, agar produk olahan mangrove dan limbah udang khas Kukar semakin dikenal luas. Keberadaan rumah produksi bersama ini menjadi bukti bahwa potensi pesisir, jika dikelola dengan serius, mampu mengangkat ekonomi warga desa.