KALIMANTAN TIMUR — Chief Operating Officer JDI Dhani Yahya mengungkapkan bahwa perakitan completely knocked down (CKD) mobil listrik T1 menjadi prioritas utama perusahaan dalam dua tahun ke depan. Namun, untuk mengejar angka TKDN yang ditetapkan pemerintah, BAIC tidak hanya merakit kendaraan, tetapi juga memproduksi baterai secara lokal.
Strategi Lokalisasi Baterai Tanpa Sel Impor
Dhani menjelaskan bahwa proses perakitan baterai akan dilakukan di dalam negeri, meskipun sel baterai (battery cell) masih harus diimpor dalam bentuk completely built up (CBU). Komponen lain seperti battery pack dan modul pendukung akan diproduksi dan dirakit secara lokal.
"Yang masih CBU nanti hanya sel baterainya. Komponen lainnya sudah diproduksi dan dirakit secara lokal," kata Dhani dalam konferensi pers di Alam Sutera, Tangerang, beberapa waktu lalu.
BAIC memastikan mobil listrik T1 versi Indonesia tetap menggunakan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP), teknologi yang sama dengan model global. Pemilihan LFP dinilai tepat untuk pasar Indonesia karena faktor keamanan termal dan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan baterai NMC.
Investasi Rp65 Miliar dan Mitra Lokal yang Masih Rahasia
Untuk merealisasikan proyek ini, BAIC menggelontorkan dana sekitar 28 juta yuan atau setara Rp65 miliar. Anggaran tersebut difokuskan untuk membangun lini perakitan baterai serta pengadaan mesin dan peralatan pendukung di fasilitas HIM.
Saat ini, JDI tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu pemasok baterai di Indonesia. Identitas mitra tersebut masih dirahasiakan hingga proses administrasi dan penandatanganan kontrak rampung.
"Proyek baterai ini sudah berjalan. Kick off meeting juga sudah dilakukan, dengan dukungan BAIC International maupun prinsipal perusahaan baterai yang bekerja sama di Indonesia," ujar Dhani.
Ia menambahkan bahwa pengumuman resmi mengenai mitra lokal akan disampaikan setelah seluruh dokumen kerja sama ditandatangani.
Jadwal Perakitan CKD T1 dan Target Pasar
Produksi CKD mobil listrik T1 ditargetkan bergulir pada Juli 2027. Dengan lokalisasi baterai, BAIC optimistis dapat memenuhi TKDN 60 persen yang menjadi syarat insentif kendaraan listrik dari pemerintah.
Langkah ini juga menjadi sinyal keseriusan BAIC membangun basis produksi jangka panjang di Indonesia, bukan sekadar menjual mobil impor. Jika berjalan mulus, T1 rakitan Purwakarta akan menjadi model listrik pertama BAIC yang diproduksi lokal dengan kandungan komponen dalam negeri yang signifikan.
Belum ada informasi mengenai harga jual T1 versi rakitan lokal. Namun, dengan lokalisasi baterai, BAIC berpotensi menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan model impor utuh (CBU).