KALIMANTAN TIMUR — Tekanan pada saham Tesla datang di tengah kondisi bisnis yang kontradiktif. Perusahaan mencatat rekor pengiriman kendaraan sebanyak 480.126 unit sepanjang kuartal kedua 2026, tetapi margin kotor bisnis otomotif justru merosot ke angka 16,3%—di bawah perkiraan analis yang menyentuh 18%. Pendapatan rata-rata per kendaraan juga turun menjadi sekitar US$42.730 dari US$45.345 pada periode sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan volume penjualan tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan profitabilitas. Laba per saham yang disesuaikan hanya mencapai US$0,33, sementara para analis memperkirakan US$0,51. Kondisi ini membuat investor mempertanyakan efektivitas strategi ekspansi volume yang dijalankan manajemen.
Manajemen Tesla menggelontorkan dana sebesar US$5,8 miliar untuk belanja modal sepanjang kuartal kedua 2026. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, arus kas bebas perusahaan berubah menjadi negatif US$1,1 miliar—pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Elon Musk menegaskan bahwa perusahaan sedang memasuki periode belanja modal yang sangat besar karena ingin mempercepat pengembangan AI, teknologi otonom, robotaxi, dan robot humanoid. Strategi ini memang membawa risiko besar. Jika investasi tersebut gagal menghasilkan pendapatan baru dalam waktu dekat, investor dapat kehilangan kepercayaan terhadap arah bisnis perusahaan.
Di tengah tekanan finansial, teknologi Full Self-Driving atau FSD menjadi kartu utama yang masih membuat investor bertahan. Tesla menutup kuartal kedua dengan sekitar 1,5 juta pelanggan aktif FSD, meningkat 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan pelanggan FSD penting bagi model bisnis Tesla karena software mampu menghasilkan pendapatan berulang tanpa membutuhkan produksi kendaraan baru dalam jumlah besar. Semakin banyak pemilik kendaraan yang berlangganan, semakin besar pula potensi monetisasi dari basis kendaraan yang sudah beredar di jalan.
Layanan robotaxi Tesla terus diperluas setelah sebelumnya beroperasi di Austin. Perusahaan kini menjangkau Dallas, Houston, Miami, Orlando, dan Tampa. Konsep ini berpotensi mengubah kendaraan dari sekadar produk yang menghasilkan pendapatan saat dijual menjadi aset yang bekerja menghasilkan uang secara terus-menerus.
Namun, peluang tersebut masih menghadapi hambatan besar. Regulasi keselamatan, persetujuan pemerintah, kematangan teknologi, dan kepercayaan konsumen akan menentukan seberapa cepat layanan ini dapat berkembang. Tesla harus membuktikan bahwa investasi besar di sektor otonom mampu mengubah lanskap persaingan industri otomotif global.
Bagi investor Indonesia yang ingin mengekspos portofolionya ke saham Tesla, platform seperti Pintu menghadirkan fitur tokenisasi saham berbasis blockchain. Melalui mekanisme ini, investor dapat memperoleh saham global seperti Tesla, Nvidia, Apple, Alphabet, dan perusahaan besar lainnya tanpa harus membuka rekening broker konvensional. Perlu dipahami juga perbedaan mendasar antara perdagangan saham langsung dan kontrak futures yang memiliki tanggal dan ketentuan spesifik.