Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Kalimantan Timur bersama warga menggelar shalat istisqa di Masjid Nurul Mu'minin, Samarinda, Jumat. Ibadah ini menjadi ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan di tengah krisis air bersih dan kekeringan lahan akibat kemarau panjang.
SAMARINDA — Di tengah teriknya kemarau yang melanda, Masjid Nurul Mu'minin di Samarinda menjadi saksi ratusan aparatur sipil negara (ASN) dan warga yang khusyuk menunaikan shalat istisqa. Mereka bersimpuh memohon kepada Tuhan agar kawasan Kalimantan Timur segera diguyur hujan.
Staf Ahli Gubernur Bidang III Pemprov Kaltim, Puguh Harjanto, menegaskan bahwa shalat istisqa bukan sekadar ritual seremonial. Ia menyebut momentum ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen untuk meningkatkan doa dan muhasabah diri di tengah kesulitan yang melanda.
"Shalat Istisqa ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan doa agar segera turun hujan yang cukup dan membawa keberkahan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Puguh di Samarinda, Jumat.
Dampak kemarau panjang yang terjadi saat ini sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketersediaan air bersih menjadi terbatas, sementara sejumlah lahan produktif milik petani mulai mengering dan tidak bisa ditanami.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Puguh menyebut, Pemprov Kaltim terus mengerahkan berbagai upaya teknis untuk mengantisipasi dan menangani dampak kekeringan di lapangan, mulai dari distribusi air bersih hingga langkah-langkah mitigasi lainnya.
Namun, menurut dia, penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan upaya fisik semata. Sinergi antara ikhtiar keduniawian dan spiritual dinilai sama pentingnya untuk dilakukan secara beriringan.
"Selain upaya keduniawian, terdapat ikhtiar penting lainnya yang perlu dilakukan bersama, yakni bermuhasabah, memperbaiki diri, memperbanyak doa," kata Puguh.
Puguh berharap hujan yang nantinya turun tidak hanya sekadar membasahi tanah. Ia menginginkan air yang turun mampu mengatasi kekeringan, memenuhi kebutuhan domestik warga, serta membantu sektor pertanian agar kembali produktif.
Tak hanya itu, ia juga berharap hujan dapat mengisi ulang sumber-sumber air dan mengembalikan keseimbangan lingkungan yang sempat terganggu akibat musim kemarau.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar masyarakat bersama-sama berdoa supaya hujan yang datang merupakan rezeki dan rahmat. Ia mewanti-wanti agar hujan tidak turun dalam intensitas ekstrem yang justru berpotensi memicu bencana baru seperti banjir.
Setelah bermunajat, Puguh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu langkah paling sederhana yang bisa dimulai adalah dengan bijak dan hemat dalam menggunakan air sehari-hari.
Ia juga mendorong peningkatan kepedulian sosial terhadap warga yang terdampak krisis air bersih. Bantuan antarwarga dinilai sangat berarti di tengah situasi sulit seperti sekarang ini.
"Semoga kesulitan yang kita alami bisa segera teratasi dengan kecukupan air, dan menjaga Kalimantan Timur dari kekeringan dan kebakaran, serta menjaga keselamatan seluruh masyarakat," pungkasnya.