SAMARINDA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur kian nyata di tengah kemarau yang melanda sejak awal bulan ini. Pemerintah provinsi menyiapkan langkah antisipasi dengan menjadwalkan rekayasa cuaca pada 22-27 Agustus 2026, dengan harapan hujan buatan segera turun sebelum api semakin meluas.
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud menegaskan keputusan final masih menunggu perkembangan cuaca dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah memberi ruang bagi hujan untuk turun secara alami sebelum intervensi teknologi modifikasi cuaca (TMC) dilakukan.
"Insya Allah tanggal 22 sampai tanggal 27 jika hujan belum turun maka akan dilaksanakan rekayasa cuaca supaya hujan bisa segera turun di wilayah Kalimantan Timur," kata Rudy, Senin (17/8).
Rudy menyebut empat daerah yang masuk area perhatian dalam rencana rekayasa cuaca, yakni Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara. Keempat wilayah ini dinilai rawan jika kondisi kering masih berlanjut.
Meski begitu, ia belum merinci teknis pelaksanaan maupun luas wilayah yang menjadi sasaran operasi TMC. Langkah ini diposisikan sebagai upaya mempercepat datangnya hujan ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Kekeringan tahun ini tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga mulai mengganggu pergerakan barang dan jasa. Gangguan terlihat jelas di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), di mana surutnya Sungai Mahakam membuat jalur air yang menjadi akses utama menuju pedalaman tidak berfungsi optimal.
Kondisi ini mempersulit pengiriman kebutuhan pokok dan energi ke wilayah seperti Long Apari dan Long Pahangai. Rudy menilai kerugian akibat karhutla tidak hanya lahan terbakar, tetapi juga bisa merembet ke persoalan kesehatan masyarakat.
"Lebih baik kita sibuk untuk mengantisipasi daripada kita memadamkan kebakaran ini karena banyak sekali dampak yang akan terjadi terutama berkaitan dengan kesehatan," katanya.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Paser mencatat peningkatan signifikan frekuensi kebakaran sejak memasuki Agustus.
Koordinator Lapangan Darurat Bencana Karhutla BPBD Paser, Agus Purwoko, mengungkapkan sejak 26 Juli hingga saat ini tercatat kurang lebih 61 titik kejadian karhutla. Total luas lahan terdampak telah melebihi 100 hektare.
"Sebetulnya dari bulan Juli sudah ada, cuma untuk kebakaran masih minim. Mungkin dalam lima hari atau sepuluh hari baru ada kejadian," ungkap Agus.
Kondisi berubah drastis pada 6 Agustus. "Ketika tanggal 6 Agustus, itu sudah melebihi. Dalam satu hari bisa enam titik, lima titik," katanya.
Luas kebakaran dalam satu titik umumnya berkisar 1,5 hingga 2 hektare. Namun, dalam kondisi tertentu bisa berkembang jauh lebih besar.
Agus menyebut kejadian dengan luasan terbesar mencapai sekitar lima hektare dalam satu titik, berlokasi di Kecamatan Pasir Belengkong. Lahan yang terbakar berupa perkebunan karet dan sawit.
"Yang paling luas sekitar lima hektare dalam satu titik. Itu di Kecamatan Pasir Belengkong. Lahannya berupa karet dan sawit," jelasnya.
Lahan perkebunan yang mengering menjadi bahan bakar yang mempercepat penjalaran api, terutama saat cuaca panas dan curah hujan rendah. Karena itu, masyarakat yang memiliki lahan perkebunan maupun berada di sekitar kawasan rawan diminta meningkatkan kewaspadaan.