KALIMANTAN TIMUR — Pernyataan tersebut disampaikan Said Abdullah di tengah rilis data pertumbuhan ekonomi terbaru. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri, karena struktur pertumbuhan yang ada saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan fundamental.
"Pertumbuhan 5,29 persen ini menunjukkan ekonomi kita bergerak, tapi kita harus jujur melihat sektor mana yang benar-benar produktif dan mana yang hanya tumbuh karena konsumsi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika.co.id di Jakarta.
Said menyoroti kinerja industri manufaktur yang mulai menunjukkan gejala perlambatan. Padahal, sektor ini selama ini menjadi tulang punggung ekspor dan penciptaan lapangan kerja formal. Ia menilai jika tren ini berlanjut, daya saing produk Indonesia di pasar global akan semakin tertekan.
Di sisi lain, sektor pertanian juga menjadi perhatian khusus. Said menekankan bahwa ketahanan pangan tidak bisa ditawar-tawar. Jika produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan, maka ketergantungan pada impor akan semakin besar dan berisiko pada fluktuasi harga di pasar domestik.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Said melihat adanya ketimpangan antara pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap solid dengan kinerja sektor produksi yang cenderung stagnan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menggerus fundamental ekonomi nasional.
Industri manufaktur dan pertanian memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar. Satu lapangan kerja di pabrik mampu menghidupi beberapa keluarga, sementara satu hektare sawah yang produktif bisa menopang pasokan pangan untuk ratusan orang.
Said menegaskan, pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal dan moneter benar-benar berpihak pada sektor riil. Insentif bagi industri padat karya dan perbaikan tata niaga pertanian menjadi langkah yang dinilai mendesak untuk dilakukan.
Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu menekan kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan secara merata. Capaian 5,29 persen baru bermakna jika dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat bawah.
Kritik dan masukan dari Ketua Banggar ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam menyusun langkah kebijakan ke depan. Fokus pada penguatan sektor produksi dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya sekadar angka, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap stabilitas nasional.