KALIMANTAN TIMUR — Manajemen RSUP Dr Sardjito mengambil keputusan tegas dengan memberhentikan sementara tugas klinis Elda Putri Rahardini, dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang diduga melontarkan cibiran terhadap pasien pengguna BPJS Kesehatan. Kebijakan ini berlaku efektif sejak dugaan komentar tersebut tersebar luas dan menjadi perhatian publik, sementara tim investigasi internal tengah memeriksa kebenaran serta konteks pernyataan yang bersangkutan.
Kabar ini bermula dari unggahan media sosial yang memperlihatkan percakapan Elda dengan nada merendahkan pasien BPJS. Admin RSUP Dr Sardjito bergerak cepat dengan menerbitkan pernyataan resmi bahwa praktik yang bersangkutan dihentikan untuk menjaga marwah pelayanan rumah sakit.
Keputusan ini ditegaskan sebagai bentuk komitmen institusi terhadap kesetaraan layanan kesehatan bagi seluruh pasien, tanpa memandang status jaminan pembayaran. "Setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan yang sama dan bermartabat," demikian bunyi pernyataan resmi yang beredar.
Tim investigasi yang dibentuk manajemen kini tengah memeriksa riwayat komunikasi digital Elda serta meminta klarifikasi langsung dari yang bersangkutan. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan apakah sanksi yang dijatuhkan berhenti pada tingkat pemberhentian sementara atau ditingkatkan menjadi pemecatan permanen dari program pendidikan.
Proses ini melibatkan bagian Sumber Daya Manusia, Komite Medik, serta pihak fakultas kedokteran yang menaungi program PPDS. Publik diharapkan memberi ruang bagi proses investigasi yang transparan dan akuntabel.
Insiden di RSUP Dr Sardjito ini membuka kembali diskusi tentang beban kerja dokter PPDS yang kerap berhadapan dengan volume pasien tinggi, terutama di rumah sakit rujukan nasional. Di sisi lain, kasus ini juga menjadi pengingat bagi seluruh tenaga kesehatan bahwa etika pelayanan publik tidak bisa ditawar, termasuk dalam interaksi di ruang digital.
Rumah sakit menyatakan akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi internal untuk memperkuat pengawasan perilaku profesional para peserta didiknya. Langkah preventif seperti pelatihan komunikasi empatik bagi PPDS juga tengah dipertimbangkan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.