SAMARINDA — Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kusuma, mengungkapkan bahwa ragam opsi materi yang ditawarkan sangat luas. Mulai dari seni tari tradisional, tata boga khas daerah, tata busana lokal, cerita rakyat, hingga olahraga tradisional menjadi pilihan yang bisa diadopsi sekolah.
“Penyusunan 24 pilihan muatan lokal ini dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan akar tradisi daerahnya melalui pembelajaran menyenangkan di sekolah,” kata Barlin di Samarinda, Minggu.
Setiap satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk memilih materi yang paling sesuai dengan minat siswa serta kesiapan tenaga pengajar. Fleksibilitas ini, menurut Barlin, membuka ruang bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran bahasa daerah secara optimal, baik bahasa Kutai, Banjar, maupun Dayak.
“Setiap satuan pendidikan diberikan kebebasan untuk memilih materi muatan lokal yang paling sesuai dengan minat siswa serta kesiapan sekolah,” ujarnya.
Langkah ini dinilai menjadi penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Disdikbud menargetkan lahirnya generasi muda yang bangga terhadap identitas budaya daerahnya, bukan sekadar memahami secara teori.
“Kami ingin memastikan kebudayaan lokal tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari para siswa,” sebut Barlin.
Tidak hanya belajar di dalam kelas, para pelajar juga didorong untuk membuat konten digital kreatif. Tema yang diangkat seputar sejarah dan cagar budaya di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.
Integrasi teknologi digital dalam tugas sekolah ini dinilai efektif meningkatkan minat belajar serta pemahaman siswa terhadap nilai-nilai sejarah daerah. “Sinergi antara kurikulum sekolah dan ekspresi seni peserta didik ini menjadi fondasi utama mewujudkan Samarinda sebagai kota pusat peradaban baru,” jelasnya.
Untuk mengapresiasi bakat siswa, pemerintah kota turut memfasilitasi ajang unjuk kemampuan. Pementasan seni dan festival budaya tahunan disiapkan khusus bagi para pelajar berprestasi di bidang kebudayaan.
Penguatan ekosistem pendidikan berbasis budaya ini diharapkan mampu membentengi remaja dari pengaruh negatif pergeseran nilai di era modernisasi. “Harapan kami seluruh sekolah dapat memanfaatkan opsi muatan lokal ini secara konsisten agar warisan leluhur tetap lestari di masa mendatang,” tutur Barlin.