TANJUNG REDEB — Ekosistem bawah laut di salah satu destinasi wisata selam unggulan Kalimantan Timur, Pulau Maratua, mulai pulih secara masif. PT Berau Coal bersama sejumlah mitra menanam ribuan media terumbu karang buatan di perairan Kampung Payung-Payung pada awal Mei lalu.
Metode transplantasi menggunakan media buatan dipilih karena dinilai lebih efektif mempercepat pertumbuhan karang baru. Struktur buatan ini tidak hanya menjadi rumah bagi biota laut, tetapi juga berfungsi sebagai pemecah gelombang alami yang melindungi garis pantai dari abrasi.
Ketua Panitia Kegiatan, Farhan Soeprapto, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bagian dari kewajiban pemegang Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). “Tahun lalu kami telah melakukan penanaman 300 mangrove, dan tahun ini dilanjutkan dengan transplantasi terumbu karang,” kata Farhan dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (12/7/2026).
Region Head Berau PT Asian Bulk Logistic, Dimas Rinto Prasetyo, menegaskan komitmen perusahaannya sebagai mitra strategis. “Kami sebagai mitra strategis bersama-sama menjaga laut untuk kelestarian ekosistem,” ujar Dimas.
Shipping Manager & PJK3L Marine PT Berau Coal, Sandy Santosa, menekankan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar pemenuhan dokumen perizinan. “Kegiatan ini sudah kami lakukan untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya penanaman mangrove pada tahun lalu. Ke depan, kami berharap program ini dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pihak,” jelas Sandy.
Pulau Maratua selama ini dikenal sebagai salah satu titik penyelaman terbaik di Indonesia. Rusaknya terumbu karang akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim mengancam sektor pariwisata bahari yang menjadi sumber penghidupan warga setempat.
Melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan komunitas seperti Maratua Peduli Lingkungan (MPL) serta Kelompok Sadar Wisata Kampung Payung-Payung, diharapkan kesadaran menjaga lingkungan laut semakin menguat. Sinergi ini dinilai krusial untuk keberlanjutan ekosistem pesisir di Berau.