BALIKPAPAN — Hawa panas yang menyengat di Kalimantan Timur belakangan ini bukan sekadar cuaca biasa. Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan bahwa kondisi itu didominasi pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering ke wilayah Indonesia.
“Faktor panas yang paling dominan saat ini karena kita sudah memasuki musim timuran atau Monsun Australia yang membawa sifat udara lebih kering. El Nino juga sedang menuju fase aktifnya, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar Huda, Jumat (10/7/2026).
Meski suhu panas sudah terasa, BMKG menegaskan situasi saat ini belum berada pada titik ekstrem. Berdasarkan kajian mendalam, imbas El Nino yang paling signifikan baru akan menghantam Kaltim dalam tiga bulan ke depan.
“Untuk saat ini belum masuk puncak dampak El Nino. Puncaknya diperkirakan terjadi pada September, Oktober, dan November,” urainya.
Kendati belum mencapai puncak, data satelit BMKG per Kamis (9/7) sudah mendeteksi total 116 titik panas di seluruh Kaltim. Kutai Timur menjadi daerah dengan sebaran tertinggi yakni 48 titik, disusul Kabupaten Paser dengan 34 titik.
Kabupaten Kutai Kartanegara mencatatkan 18 titik panas, Kabupaten Berau 6 titik, dan Kota Bontang terpantau memiliki 2 titik panas. Namun, konsentrasi titik panas yang paling mengkhawatirkan berada di wilayah selatan.
“Kalau dilihat dari titik hotspot, pengamatan terakhir berada di wilayah selatan seperti PPU dan Balikpapan. Itu yang menjadi perhatian kami saat ini,” tegas Huda.
BMKG memproyeksikan tingkat kerawanan karhutla di Benua Etam berada pada level mengkhawatirkan. Langkah antisipasi dini dan kesiapsiagaan seluruh pihak dinilai sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kebakaran skala besar.