Libur Sekolah Tak Dongkrak Okupansi Hotel di Balikpapan, PHRI Soroti Minimnya Daya Tarik Wisata Keluarga

Penulis: Okta Nugraha  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 20:29:31 WIB
Okupansi hotel di Balikpapan tetap stabil di angka 50-60 persen selama libur sekolah Idul Adha 2025.

BALIKPAPAN — Libur panjang sekolah yang biasanya menjadi momentum kebangkitan pariwisata keluarga ternyata tak berdampak signifikan terhadap okupansi hotel di Balikpapan. Ketua PHRI Kalimantan Timur, Dwi Cahyono, mengungkapkan bahwa tingkat hunian kamar sejak libur Idul Adha hingga pertengahan Juli 2025 masih berkisar di angka 50-60 persen, sama seperti hari biasa.

"Mayoritas tamu yang menginap di hotel-hotel Balikpapan adalah pelaku perjalanan bisnis. Wisatawan keluarga, terutama yang membawa anak-anak, jumlahnya sangat kecil," ujar Dwi kepada wartawan, Selasa (15/7/2025).

Mengapa Wisatawan Keluarga Melewatkan Balikpapan?

Menurut PHRI, rendahnya minat wisatawan keluarga disebabkan oleh terbatasnya pilihan destinasi wisata yang ramah anak di Balikpapan. Kota ini dikenal sebagai pusat bisnis dan industri migas, namun belum memiliki taman hiburan tematik, wahana edukasi terbuka, atau pusat rekreasi keluarga yang representatif.

"Kalau dibandingkan dengan kota lain di Indonesia seperti Yogyakarta, Bandung, atau bahkan Samarinda, Balikpapan masih kalah dalam hal variasi destinasi wisata keluarga. Orang tua butuh tempat yang aman, nyaman, dan menarik bagi anak-anak," tambah Dwi.

PHRI Dorong Pemkot Kembangkan Destinasi Baru

PHRI Kalimantan Timur mendorong Pemerintah Kota Balikpapan untuk segera merealisasikan pengembangan destinasi wisata berbasis keluarga. Beberapa kawasan yang dinilai potensial antara lain kawasan pesisir Pantai Melawai dan kawasan hutan kota di Bukit Bangkirai.

"Kami sudah menyampaikan usulan ini ke Dinas Pariwisata. Kami berharap ada masterplan yang jelas, baik dari sisi infrastruktur, aksesibilitas, maupun promosi. Jangan sampai momentum libur sekolah terus terbuang percuma," tegas Dwi.

Apa Dampak Minimnya Wisata Keluarga bagi Pelaku Usaha?

Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan hotel dan restoran di Balikpapan. Saat okupansi hotel didominasi tamu bisnis, tingkat belanja tamu cenderung terbatas pada kebutuhan akomodasi dan makan. Sementara itu, wisatawan keluarga biasanya membelanjakan lebih banyak uang untuk rekreasi, oleh-oleh, dan kuliner.

"Kami kehilangan potensi pendapatan tambahan dari sektor leisure. Kalau wisatawan keluarga datang, mereka biasanya menginap lebih lama dan berbelanja lebih banyak. Ini efek berganda yang sangat kami butuhkan," jelas Dwi.

Kapan Destinasi Wisata Baru Bisa Terealisasi?

Hingga saat ini, Pemkot Balikpapan belum mengumumkan secara resmi rencana pengembangan destinasi wisata baru. PHRI berharap agar rencana tersebut masuk dalam prioritas pembangunan daerah tahun anggaran 2026.

"Kami optimistis dengan komitmen Wali Kota. Tapi kami juga minta realisasinya tidak molor. Libur sekolah berikutnya di Desember 2025 harusnya sudah ada destinasi baru yang bisa ditawarkan," pungkas Dwi.

FAQ: Apa yang Perlu Diketahui Wisatawan Keluarga ke Balikpapan?

Apa destinasi wisata keluarga yang ada di Balikpapan saat ini?

Saat ini, pilihan utama wisata keluarga di Balikpapan masih terbatas pada kawasan pantai, seperti Pantai Melawai dan Pantai Manggar, serta kawasan konservasi seperti Kebun Raya Balikpapan. Belum ada wahana tematik atau taman bermain modern yang setara dengan kota-kota besar lain.

Mengapa hotel di Balikpapan tidak ramai saat libur sekolah?

Karena mayoritas tamu hotel adalah pelaku perjalanan bisnis yang jadwalnya tidak terpengaruh libur sekolah. Selain itu, kurangnya atraksi wisata keluarga membuat wisatawan lebih memilih destinasi lain di Kalimantan Timur, seperti Samarinda atau kawasan wisata alam di Kutai Kartanegara.

Apa yang bisa dilakukan wisatawan keluarga saat ke Balikpapan?

Wisatawan masih bisa menikmati wisata alam seperti hutan mangrove, wisata kuliner di kawasan Pelabuhan Semayang, atau berbelanja oleh-oleh khas di Pasar Klandasan. Namun, untuk rekreasi keluarga yang terintegrasi, pilihannya masih sangat terbatas.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: kaltimpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top