Paradoks Skotlandia di Piala Dunia: Suporter Luar Biasa, Tim Nasional Payah

Penulis: Taufik Rahman  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 01:39:01 WIB
Suporter Skotlandia tetap antusias meski tim nasional tampil kurang maksimal di Piala Dunia.

KALIMANTAN TIMUR — Skotlandia kini terkatung-katung di North Carolina dengan secercah harapan tipis untuk lolos ke 32 besar. Namun, pengakuan dari dalam tim pun menyiratkan bahwa kontribusi mereka di turnamen ini hanya pantas mendapatkan tiket pulang lebih awal. Penguasaan bola seolah menjadi konsep asing bagi skuad asuhan Steve Clarke.

Kontrak Clarke Jadi Sorotan, Skuad Tak Berdaya

Kritik tajam tertuju pada Steve Clarke. Sejak menjabat pada 2019, ia dinilai gagal membawa angin segar. Keputusan Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) memberikan perpanjangan kontrak empat tahun sebelum Piala Dunia bergulir pun dianggap sebagai langkah yang tidak masuk akal.

Performa para pemain andalan pun jauh dari harapan. Scott McTominay tampil buruk dan anehnya absen dari sesi wawancara media rutin. John McGinn gagal membawa performa terbaiknya di Aston Villa ke level turnamen. Keduanya disebut-sebut kesulitan beradaptasi dengan penurunan kualitas rekan setim di tim nasional.

Strategi Clarke Dipertanyakan, Gol Minim

Keputusan taktis Clarke juga menuai kritik. Memainkan Kieran Tierney di sisi kiri gelandang saat melawan Maroko tidak membuahkan hasil. Lawrence Shankland, yang dikenal haus gol namun minim kecepatan, menjadi pilihan aneh sebagai ujung tombak tunggal di bawah terik matahari Miami saat melawan Brasil. Hasilnya, Skotlandia hanya mampu mencetak satu gol dalam tiga pertandingan fase grup.

“Saya pikir ketika Anda melihat fisik, kekuatan, dan teknik (tim lain), Anda bisa melihat bahwa kami harus melakukan sesuatu,” ujar Clarke dengan suara bergetar dalam konferensi pers usai laga melawan Brasil. Ia pun mengakui bahwa para pemain Skotlandia terlihat kewalahan di lingkungan turnamen seperti ini.

Krisis Kepemimpinan SFA Usai Kegagalan Beruntun

Ini bukan kegagalan pertama. Dalam tiga turnamen beruntun di bawah Clarke, Skotlandia hanya mencetak empat gol dari sembilan pertandingan. SFA dinilai gagal meminta pertanggungjawaban. Presiden SFA Mike Mulraney, yang juga memimpin komite keuangan FIFA, dan CEO Ian Maxwell justru menghilang dari publik setelah Skotlandia tersingkir di Euro 2024.

Skotlandia kini menghadapi krisis olahraga nasional. SFA dituntut untuk segera bertindak, bukan sekadar bersembunyi. Solusi radikal seperti kuota pemain lokal dan insentif bagi klub yang memainkan pemain muda Skotlandia harus dipertimbangkan. Klub-klub yang selama ini lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada kemajuan pemain lokal harus ditegur dengan bukti nyata.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top